Thursday, August 2, 2012

Dubai dan London Potensial Memajukan Ekonomi Syariah Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosyid Nurul Hakiim*
Sabtu, 05 Mei 2012, 08:13 WIB 

LONDON -- Dubai dan London merupakan dua kota yang dianggap potensial untuk memajukan ekonomi syariah di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Pakar Ekonomi Syariah, Muhammad Syafii Antonio, dalam Seminar Ekonomi dan Keuangan Syariah di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London, Jumat (4/05).

Acara seminar tersebut terselenggara atas kerja sama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) United Kingdom, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) London, dan Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR). Seminar tersebut mengambil tema, Memperkuat Peran Keuangan Syariah dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia: Peluang dan Tantangan Global.

Dalam seminar tersebut, Syafii melihat bahwa dengan menghubungkan Dubai, London dan Jakarta maka peningkatan investasi keuangan syariah diperkirakan dapat meningkat. Dubai menjadi kota tempat uang untuk investasi itu berasal, lalu Jakarta menjadi tempat tujuan investasi tersebut, kemudian London menjadi negara yang mengatur manajemen keuangannya. "Ini cinta segitiga London - Dubai - Jakarta," ujarnya. 

Muslim Myanmar Sengsara

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK --Rabu, 01 Agustus 2012, 21:00 WIB
 Pasukan keamanan Myanmar dilaporkan menembaki warga muslim Rohingya serta melakukan perkosaan. Pasukan keamanan juga disebut tidak bertindak sama sekali ketika massa yang berseteru saling menyerang dalam aksi kekerasan sektarian belum lama ini. Hal ini dilaporkan oleh satu kelompok HAM Human Rights Watch (HRW).

"Pihak berwenang gagal melindungi warga Rohingya yang Muslim maupun warga Buddha dan kemudian terjadi aksi kekerasan yang tidak terkendalikan dan massa menangkap para warga Rohingya," kata kelompok HAM Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di New York dalam satu laporan.

HRW dalam laporannya mengatakan, kekejaman yang terjadi sudah sepatutnya mendapat reaksi cepat dan keras dari dunia Internasional. 

Masyarakat Islam Indonesia Dianggap Intoleransi

Minggu, 10 Juni 2012
Bagian kedua: Memahami "toleransi", HAM dan Agama
Menyambut Pidato Hasyim Muzadi. Catatan Seorang Warganegara Kepada Pemimpin Bangsa
Bagian kedua: Memahami “toleransi” , HAM dan Agama

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Istilah yang muncul dalam konteks pidato KH Hasyim Muzadi adalah “toleransi” Islam di Indonesia dibandingkan di tempat lain di dalam Indonesia sendiri maupun di beberapa negera di dunia. Istilah toleransi dijelaskan untuk menangkal rekomendasi Dewan HAM PBB tentang intoleransi Indonesia terkait dengan kondisi sosial politik yang menyebabkan hak-hak dasar warganegaranya tidak terpenuhi.
Tentu saja bisa mengagetkan bagi Indonesia yang negaranya paling religis dan beragama mendapat teguran ini. Agama adalah segala-galanya bagi manusia Indonesia. Mengapa agama dengan capaian keutamaan ajarannya seolah-olah diragukan karena ternyata dampaknya menyebabkan keresahan ketidakdamaian bagi semua warganegara? Tiba-tiba di dalam masyarakat yang beragama ini terjadi serang menyerang sehingga

AL IMAMAH Sekilas tentang imam dalam shalat jamaah


Fenomena yang kerap terjadi dalam masyarakat dewasa ini tentunya tak lepas dari masalah-masalah agama yang terus berkembang dan mengikuti sebuah arus kebudayaan.
Tak jarang saat ini banyak sekali orang yang menginginkan kedudukan tinggi padahal ia belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk hal itu.

Metode Hisab (Perhitungan Astronomis)

Dengan ditempatkan sebagai acuan perhitungan kalender, siklus peredaran Bulan dan Matahari itu logisnya harus bersifat eksak, dan nyatanya memang demikian. Al-Qur'an (ar-Rahman ayat 5) menegaskan: "Asy-syamsu wal-qamaru bihusban" (Matahari dan Bulan beredar dengan perhitungan), dan hasil penyelidikan ilmu pengetahuan membenarkan hal itu. Konsekuensi logisnya -karena peredaran Bulan dan Matahari bersifat eksak- adalah bahwa penyusunan kalender yang mengacu kepada peredaran kedua benda langit tersebut tentu bisa dilakukan dengan hisab atau perhitungan.